Memetik Ilmu Dari Startup-Startup Indonesia | Berkembangnya startup-startup di Indonesia bisa dibilang memiliki perkembangan yang menyegarkan bagi sirkulasi ekonomi tanah air. Dikarenakan Indonesia memiliki banyak startup berkualitas, namun terkendala berbagai hal seperti jaringan internet yang pada zaman dahulu belum cukup untuk menampung berbagai perkembangan. Faktor lain yang menjadi penyebab, adalah pada sektor pendanaan yang dirasa masih kurang, yang semakin berjalannya waktu kendala tersebut semakin diperbaiki.

Memetik ilmu dari startup startup Indonesia

Accurate Online, sebuah software pembukuan Indonesia mendata, selama ini startup-startup lokal banyak mengalami pasang surut selama masa berjalannya. Beberapa dari perusahaan yang awalnya berskala kecil, kini telah berkembang menjadi sebuah perusahaan raksasa dan berhasil dalam bidangnya. Namun, tidak semua kerja keras startup membuahkan hasil, banyak pula startup yang justru gulung tikar karena belum mampu menangani masalah.

Indonesia sendiri, salah satu startup yang berhasil berkembang adalah William Tanuwijaya melalui Tokopedia yang menjadi panutan dengan mendapat investasi sebesar USD 100 juta (Rp 1,2 triliun) pada tahun 2014. Dana yang berasal dari perusahaan venture capital raksasa; Softbank dan Sequoia Capital ini sebelumnya telah sukses mendukung bantuan biaya perusahaan-perusahaan bidang digital besar seperti Alibaba, Whatsapp, dan LinkedIn. Karena pengaruh Softbank dan Sequoia yangtinggi pada tingkat venture capital dunia, kini Tokopedia dan startup-startup Indonesia lainnya menjadi sorotan oleh para investor dan perusahaan global.

Perusahaan startup lokal lainnya yang perkembangannya menuai sukses adalah Traveloka. Accurate Online mendata, pada penelitian yang dilakukan oleh perusahaan penyedia data dan analisis pasar asal Amerika Serikat, comScore, mengkonfirmasi bahwa Traveloka berada di peringkat pertama untuk layanan pencarian dan pemesanan tiket pesawat, di luar situs resmi tiap maskapai. Tahun 2015, Traveloka memiliki karyawan dengan jumlah 270, dari sebelumnya yang hanya berjumlah 120 karyawan. Perusahaan yang didirikan pada tahun 2012 ini memiliki sekitar 250.000 pengunjung setiap harinya, serta dengan lebih dari 3.000 hotel terdaftar dan tersebar di Indonesia maupun negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia, dan lain-lain.

Namun, tidak semua startup memiiliki nasib yang baik. Banyak pula startup yang harus gulung tikar karena belum mampu mengatasi beberapa masalah yang dihadapi, salah satunya perusahaan startup bernama Abraresto. Salah satu platform konten makanan terbesar di Indonesia ini mengalami kendala pada sektor pendanaan, dan ganjalan masalah pada investor-investor sebelumnya. Pada press release terakhir yang dipublikasi oleh Abraresto menjelaskan, bahwa salah satu alasan mengapa mereka gulung tikar, adalah ketidak sehatan kondisi keuangan yang dimiliki oleh perusahaan.

 

Lain halnya yang dialami oleh Paraplou. Perusahaan startup ritel fashion Paraplou merupakan marketplace yang menawarkan barang—barang premium, serta penyedia layanan e-commerce ini pada mulanya mendapat pendanaan sebesar Rp20,7 miliar. Kendala yang mereka alami, adalah melakukan pengeluaran yang terlalu tinggi tanpa memperhitungkan situasi keuangan yang mereka miliki. Mereka juga merasa bahwa pasar busana premium Indonesia  belum siap, ditambah dengan kondisi keuangan global yang tak menentu sehingga sulitnya mendapatkan pendanaan.

Semoga Anda sebagai pengusaha dapat memetik pelajaran dari mereka para para startup yang telah berdiri, baik yang berhasil dengan tangguh menangani segala rintangan, maupun mempelajari mengapa sebuah bisnis startup bangkrut dan gulung tikar. Jangan lupa untuk benahi sistem internal Anda agar dapat mendukung komponen-komponen lain yang telah Anda bangun.